Selasa, 25 Juni 2013

PROSES GAMETOGENESIS

A.    Gametogenesis (Pembentukan Gamet)
Hewan dan tumbuhan mengalami meiosis dan mitosis. Pada hewan, fase diploid lebih dominan, sedangkan fase haploid terjadi pada gamet. Pada tumbuhan, fase haploid dan diploid sama-sama dominan. Pada sel tumbuhan, fase haploid disebut generasi gametofit dan fase diploid disebut generasi sporofit.
Pada sel hewan, pembentukan gamet selalu terjadi di dalam tubuh individu diploid lewat proses meiosis. Pada tumbuhan, gamet-gamet di produksi dalam individu haploid lewat proses mitosis. Hasil fertilisasi pada tumbuhan merupakan tumbuhan penghasil spora yang melewati proses meiosis. Sebagai akibatnya terjadi pengurangan jumlah kromosom menjadi setengahnya selama proses ini.
Meiosis memegang peran penting dalam pembentukan sel kelamin / gamet dalam kelenjar kelamin (gonad), yang pada hewan jantan terjadi di testis dan pada hewan betina terjadi di ovarium. Pada tumbuhan biji, meiosis terjadi pada kepala sari dan kandung lembaga. Pada tumbuhan lumut, meiosis terjadi di sporogonium dan pada tumbuhan paku di sporangiumnya. Dengan demikian kita sekarang tahu bahwa spora yang terbentuk pada tumbuhan berspora sifatnya haploid.
a)    Gametogenesis pada Tumbuhan
Pada tumbuhan tingkat tinggi, yaitu tumbuhan bunga atau angiospermae, benang sari (alat kelamin jantan) terdiri atas kepala sari (anter) dan tangkai sari (filamen). Gamet jantan (serbuk sari) dibentuk di kepala sari. Di dalam kepala sari terdapat ruang serbuk sari yang jumlahnya tergantung spesiesnya. Di tiap ruang ini terdapat sejumlah sel induk, yaitu mikrosporofit (2n) yang kemudian membelah secara meiosis sehingga terbentuk empat mikrospora. Tiap mikrospora berkembang menjadi mikrospora dewasa atau serbuk sari. Tiap serbuk sari mengandung satu sel tabung dan satu inti generatif yang siap mmbuahi. Peristiwa pembentukan gamet jantan di atas disebut mikrosporogenesis.
Putik (alat kelamin betina) terdiri dari kepala putik (stigma), tangkai putik (stilus), dan ovarium yang berisi bakal biji (ovul). Di ovarium terdapat sel induk (megasporofit)yang bersifat diploid. Setelah sel induk membelah secara meiosis terbentuklah empat sel. Namun, hanya satu yang bertahan menjadi megaspora sedangkan tiga yang lain mengalami degenerasi. Inti sel megaspora kemudian membelah menjadi dua, membelah lagi menjadi empat, kemudian membelah lagi sehingga terdapat delapan inti haploid. Selanjutnya, tiga inti berada di dekat mikrofil, yaitu dua sebagai sinegrid (pengiring) dan satu di tengah di apit sinergid sebagai ovum. Tiga inti lain berada di tempat yang berlawanan dengan mikrofil sebagai antipoda. Dua inti bergabung di tengah sebagai inti kandung lembaga sekunder. Peristiwa pembentukan gamet betina di atas disebut megasporagenesis. Pada perkembangan berikutnya, ovum siap untuk di buahi. Pembuahan yang terjadi akan menghasilkan zigot yang bersifat diploid dan endosperma yang bersifat triploid.
b)    Gametogenesis pada Hewan
Gametogenesis pada hewan berlangsung secara meiosis. Dalam proses ini, kadang terjadi fase maturasi (pematangan), yaitu perkembangan dari hasil akhir meiosis yang tidak langsung menjadi gamet.
Gametogenesis berlangsung di dalam alat kelamin jantan dan betina. Gametogenesis dibedakan menjadi dua, yaitu spermatogenesis (pembentukan sperma) dan oogenesis (pembentukan ovum). Secara prinsif keduanya melalui cara pembelahan yang sama, namun hasil akhirnya berbeda.
1.    Spermatogenesis
Proses ini berlangsung dalam alat kelamin jantan yaitu testis. Dalam testis terdapat bagian yang disebut tubulus sminiferus. Pada bagian tersebut terdapat sel-sel primordium yang bersifat diploid. Sel-sel primordium adalah kelompok sel yang belum dewasa yang nantinya akan membentuk struktur khusus. Sel-sel primordium tersebut berulang kali mengalami pembelahan secara mitosis, diantaranya membentuk spermatogonium (induk sperma) yang nantinya akan mnjadi sperma.
Spermatogonium bersifat diploid (2n), dalam pertumbuhannya spermatogonium mengalami mitosis membentuk sel spermatosit primer yang bersifat diploid pula, kemudian sel ini melakukan meiosis. Pada meiosis I, dihasilkan dua sel anakan yang disebut spermatosit sekunder yang bersifat haploid. Pada meiosis II, tiap sel tersebut menghasilkan dua sel anakan yang disebut spermatid. Spermatid bersifat haploid, yang dalam pertumbuhannya mengalami maturasi membentuk spermatozoa. Sel spermatid dilengkapi dengan ekor sehingga spermatozoa dapat bergerak bebas jika berada pada media cair. Hasil akhir pada spermatogenesis adalah terbentuknya empat spermatozoa fungsional dari satu sel induk yang mengalami meiosis.
2.    Oogenesis
Oogenesis berlangsung dalam alat kelamin betina, yaitu ovarium. Sel primordium dalam ovarium yang bersifat diploid ialah oogonium. Dalam pertumbuhannya oogonium mengalami mitosis membentuk oosit primer yang juga bersifat diploid. Sel ini mengalami meiosis I hingga membentuk dua sel anakan, yang satu besar disebut oosit sekunder dan yang satu kecil disebut badan kutub primer. Keduanya bersifat haploid karena telah terjadi pembagian / penyusutan pada kromosom. Kedua sel ini mengalami meiosis II. Pada sel oosit sekunder juga dihasilkan dua sel anakan, yang satu besar disebut ootid sedangkan yang satu kecil disebut badan kutub sekunder. Pada badan kutub hasil meiosis I juga berlangsung meiosis II, dan hasil anakan berupa dua sel badan kutub mengalami degenerasi dalam perkembanganya hingga akhirnya mati, sedangkan ootid mengalami perkembangan menjadi ovum. Dengan demikian pada oogenesis, satu sel induk akhirnya membentuk satu ovum yang fungsional dan tiga sel badan kutub yang tidak fungsional (tidak terlihat dalam perubahan).

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. TUKANGMBAWON - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Bamz